Minggu, 28 Februari 2016

Naskah yang Tertolak

TERINSPIRASI postingan seorang teman di blognya, kali ini aku mau berbagi kisah sedih. Hehehe.... Maksudku, kisah sedih sebab naskah gado-gadoku ditolak Femina. Daripada jaim kusimpan-simpan malah tak bermanfaat, lebih baik ditaruh di blog ini saja. Lumayan untuk ODOP, lumayan pula bila malah bisa memotivasi Anda untuk tetap tegar dalam menghadapi penolakan naskah. Yuk, langsung cap cus. Semoga apa pun yang terjadi, naskah gado-gadoku yang gagal ini tetap bisa memberikan nutrisi jiwa. Halahh.... 
========================
Gado-Gado

DI BALIK Rp5.000,00
Oleh Agustina Soebachman

TIAP sore, baik sedang bokek maupun tengah punya uang lebih, saya merasa wajib menyiapkan uang Rp5.000,00. Sebenarnya sih tak ada orang lain yang mewajibkannya. Hanya saja atas nama penghargaan terhadap sesama, saya merasa perlu untuk mewajibkan diri saya sendiri. Sebenarnya untuk apa uang itu? Jawabnya, untuk jajan dua bungkus mi lethek (mi khas Bantul, Yogyakarta) dan sebungkus pecel. 

Sejujurnya menyisihkan uang segitu buat jajan tiap sore lumayan berat bagi saya. Apalagi kalau sedari pagi saya sudah keluar banyak uang untuk membayar ini-itu. Wah! Pengeluaran Rp5.000,00 di sore hari pun kian terasa beraaat. Andaikata Rp5.000,00 itu saya kumpulkan, dalam sebulan saya sudah punya tabungan sebesar Rp150.000,00. Sudah bisa untuk membayar rekening listrik, air, dan pulsa modem untuk internetan.

Maaf. Semua kalkulasi biaya di atas menurut hitungan kebutuhan saya pribadi, lho. Tentu saja bagi Anda yang punya strata ekonomi tinggi, uang segitu rupiah tidak besar nilainya. Bagi Anda yang terbiasa ngopi di warkop mahal, Rp5.000,00 itu pun belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan harga secangkir kopi yang Anda nikmati. 

Apalagi sebenarnya saya bukanlah penggemar mi lethek dan pecel. Saya sekadar doyan. Bahkan lama-kelamaan sebab tiap hari mengonsumsinya, saya beranjak bosan. Namun, saya bertahan untuk selalu membelinya. Saya tidak tega bila berhenti membelinya. Saya tak ingin bikin kecewa penjualnya, yang sudah bela-belain mengetuk pintu rumah saya, lalu menawarkan dagangan dengan senyum manisnya. Ya, ya. Sesungguhnya faktor penjualnyalah yang menyebabkan saya bersikeras mewajibkan diri untuk menyediakan Rp5.000,00 pada tiap sore.

Siapakah penjualnya? Ia adalah seorang nenek yang berusia sekitar 60 tahun. Ia merupakan tipikal perempuan desa pekerja keras, yang tak pernah tunduk pada kesulitan hidup. Buktinya, ia gigih bertani (mengerjakan sawah orang) dan berjualan dengan laba tak seberapa demi mencukupi kebutuhan keluarga. Tak peduli hari hujan atau cerah, ia rutin berkeliling dengan sepeda tuanya dari dusun ke dusun. Padahal ia berkebaya dan berkain, lho. Dan, beban di boncengan sepedanya tidaklah ringan. Adapun karena usia renta dan sakit, suaminya tak lagi mampu bekerja. Yup! Si nenek merupakan tulang punggung keluarga. 

Begitulah adanya. Jadi, saya bela-belain menyisihkan Rp5.000,00 tiap sore sebab bersimpati kepada nenek penjaja aneka gorengan, mi lethek, dan pecel itu. Terlebih tak sekadar bertransaksi jual-beli, kami juga kerap kali bertukar cerita layaknya saudara. Tema ceritanya apa saja. Termasuk sebab-musabab dirinya menjadi penjual jajanan keliling. Ia berkisah, dulunya menjadi tukang cuci piring di sebuah warung sate dan tongseng kambing. Dengan jam kerja singkat (09.30-15.00 WIB), upah bulanannya Rp700.000,00 plus makan dan bonus. Sangat lumayan jika dibandingkan dengan jam kerja dan penghasilannya kini.

Namun, ia dan 4 karyawan lainnya terpaksa di-PHK sebab warung besar dan laris itu tutup. Yang menutup putri tunggal mendiang pasangan suami istri pemilik warung. Bukan karena bangkrut melainkan sebab gengsi tinggi yang salah kaprah si calon mertua. Iya, saya sebut gengsi tinggi salah kaprah karena memang salah kaprah dan paraaah kaprahnya. Hehehe…. 

Ceritanya begini. Si putri semata wayang itu selulusnya kuliah berniat mengembangkan bisnis warung mendiang orang tuanya sembari berkarier di kantor. Tapi orang tua calon suaminya berkeberatan. Mereka malu kalau bermenantukan seorang penjual sate dan tongseng; sekalipun jualannya dalam skala besar alias juragan.  Apa boleh buat? Di mata calon mertua, menjadi pegawai kantor lebih terhormat dan bergengsi jika dibandingkan dengan menjadi juragan sate dan tongseng kambing. Walhasil demi cinta, bisnis warisan orang tua pun dihabisi. 

Saya pribadi yang bercita-cita punya bisnis apa saja dan sukses, tentu saja merasa gemas mendengar cerita tersebut. Gemas pada calon mertua yang salah kaprah gengsinya. Gemas pada si putri yang tak berpikiran jauh; bahwa dengan ditutupnya warung itu berarti ada 5 manusia yang kelimpungan kehilangan penghasilan; bahwa mendiang orang tuanya mungkin kecewa sebab toh dari hasil warung itulah si putri bisa bersekolah hingga sarjana. Gemas pada diri sendiri yang tak kunjung berani membuka bisnis apa pun padahal sudah punya sederet perencanaan….

Saya pun berandai-andai. Coba kalau saya yang diwarisi bisnis warung sate dan tongseng laris. Tentu saya amat senang ibarat mendapatkan durian runtuh. Eh, malah warung laris yang prospektif itu ditutup begitu saja. Hmm. Inilah kiranya yang disebut kehidupan. Kalau menurut falsafah Jawa, wang sinawang (= saling memandang).

Gara-gara Rp5.000,00 yang kadang kala saya sisihkan dengan berat, saya nambah saudara dan kisah tentang lika-liku kehidupan manusia. Saya pun jadi belajar untuk berpikir dan bersikap bijak; tak menyalahkan si putri walaupun gemas dengan keputusannya menutup warung. Saya juga merasa diberi-Nya teladan nyata plus semangat melalui diri si nenek yang tak tunduk pada kesulitan hidup. Iya. Di balik Rp5.000,00 yang mungkin tak seberapa nilainya bagi Anda, ternyata tersimpan banyak makna dan peristiwa tentang hidup!

=================

MORAL CERITA:
Aku butuh masukan alias kritikan alias pemberitahuan nih. Mengapa naskahku tak layak sebagai "gado-gado"? Mohon bantu ya teman-teman yang sudah berhasil lolos....

5 komentar:

  1. Mb tinbe aq ikutan gemes sama si tuan putri. Aq baca postingan ini sampe dua kali. Serius

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Irul....hahaha....makasih sdh mampir..

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Eh aku tadi dah komen trus kuhapus. anu mbak mungkin karena seperti ada dua kisah. kisah si nenek dan kisah si putri pemilik RM. Memang berhubungan sih tapi sepertinya tidak fokus (komen sok tau bin nggaya)

    btw, tengok blogku ya ada postingan gado-gadoku yang baru dimuat minggu kemaren.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template